Center Indonesia Boyolali – Sorotan tajam kembali diarahkan kepada kinerja Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri. Sejumlah pihak menilai respons Propam dalam menangani dugaan pelanggaran internal, khususnya terkait penyalahgunaan narkoba oleh oknum anggota, terkesan lambat dan berbelit.
Ketua Umum organisasi Fast Respon Counter Polri, Agus Flores, angkat bicara dengan nada tegas. Dalam kunjungannya di tambang wilayah Boyolali, Rabu (25/2), ia menegaskan agar tidak ada lagi perlindungan terhadap oknum anggota yang diduga terlibat narkoba.
“Jangan lindungi oknum anggota narkoba. Kalau memang terbukti ada pembiaran, Kapolda dan Kabid Propamnya harus dicopot. Itu bentuk tanggung jawab,” tegas Agus.
Menurutnya, langkah penanganan terhadap dugaan penyalahgunaan narkoba seharusnya dilakukan cepat dan konkret, bukan sekadar menunggu proses yang berlarut dengan dalih prosedur formal.
“Kita kerja harus cepat. Ada yang diduga pengguna narkoba, langsung tes urin. Bukan menunggu proses profesional segala macam. Itu bahasa baku dari dulu,” ujarnya lantang.
Agus menilai, sikap lamban dalam merespons dugaan pelanggaran justru dapat merusak citra institusi dan bertentangan dengan semangat reformasi internal Polri yang selama ini digaungkan oleh Kapolri. Ia menekankan bahwa ketegasan terhadap pelanggaran internal merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program pembenahan institusi.
“Kalau dibiarkan, sama saja tidak mendukung program Kapolri. Publik butuh ketegasan, bukan alasan,” tambahnya.
Pernyataan tersebut memantik perhatian publik, terutama di tengah meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas aparat penegak hukum. Fast Respon, yang dikenal aktif mengawal isu-isu internal kepolisian, kembali menunjukkan sikap kerasnya terhadap dugaan pelanggaran yang dinilai mencederai marwah institusi.
Agus pun memastikan pihaknya akan terus mengawal setiap laporan masyarakat terkait dugaan keterlibatan oknum aparat dalam penyalahgunaan narkoba.
“Kita tidak anti institusi. Justru kita ingin institusi ini bersih. Kalau ada yang salah, harus dibersihkan,” pungkasnya tegas.
(Desi suarni)
